TAK PUNYA BAHAN UNTUK MEMBANTAH SEBUAH KARYA, GAYA NGELES ALA SEKTE
TALAFI : MAAHER AT-THUWAILIBI ITU SIAPA, ALUMNI MANA, TAK JELAS
BELAJARNYA ?!!
1. Kalau saya “tidak jelas” belajarnya dimana,
lantas apakah saya tak boleh menulis? Saya tak boleh berdakwah? Saya tak
boleh berkarya? Lha emang anda siapa?
Lalu yang boleh menulis itu hanya ustadzmu? Hanya kelompokmu? Emang surga punya bapak moyangmu ?
2.
Emang Buya Hamka itu tamatan mana? Alumni mana? Belajar dimana? Siapa
gurunya dalam ilmu-ilmu alat ? Beliau adalah seorang pakar ilmu yang
terkenal dengan karya monumentalnya “Tafsir Al-Azhar” dan “Sejarah Ummat
Islam”. Tolong jawab sanad keilmuan Buya Hamka !? Tolong jawab.
3.
Kalau saya “tidak jelas” belajarnya dimana, emang ustad kibarmu Abdul
Hakim Bin Amir Abdat itu belajarnya dimana? Alumni mana? Siapa gurunya?
Sebutkan sanad keilmuannya? Ustadz andalan kelompokmu, Ustadz Yazid
Jawaz. Alumni mana dia ?? Jangan bilang murid Syaikh Utsaimin ya, karena
Syaikh Utsaimin tak mengenal mereka berdua. Ayo cepat jawab ! sebelum
anda saya permalukan dengan fakta sejarah
4.
Ustadz Ahli Hadats -Eh Ahli Hadits- mu itu (yakni Ustadz Abdul Hakim
Bin Amir Abdat) itu otodidak, ngga punya guru. Semua tulisannya copy
paste dari kitab-kitab yang dibaca di LIPIA. dia Sarjana perpustakaan,
jadi pembaca di perpustakaan LIPIA (belajar mandiri), lalu ceramah, dan
kemudian jadi ‘ustad kibar’ di kalangan komunitasmu. Hebat bukan ??
5.
Salah seorang Ustadzmu juga, pemateri di TV Rodja, bernama Ustad Fariq
Qasim Anuz. itu alumni mana? LIPIA ngga lulus, berhenti di tengah jalan,
tapi ceramah ke mana-mana; ngisi kajian, ngisi dauroh, nulis buku dan
berkarya. Lalu disebabkan kebodohan sekolam konco-koncomu lantas ditulis
di ujung namanya gelar “Lc”. Padahal, di LIPIA ngga selesai. Lalu “Lc”
nya dari mana??
6.
Saya tidak pernah mengumumkan di hadapan ummat sejagad raya bahwa saya
adalah RUJUKAN dan mesti di jadikan rujukan. rujukan ya Al-Qur'an dan
As-Sunnah, bukan Maaher At-Thuwailibi. Maaher At-Thuwailbi hanyalah satu
diantara sekian juta anak bangsa yang ingin menyampaikan aspirasinya
lewat karya-karya (walau hanya dengan narasi tulisan, artikel, atau
video blog/vlog)
7. Jikalau orang yang “berhak jadi rujukan”
menurut anda adalah orang yang “mesti jelas belajarnya dimana”, atau
“harus alumni timur tengah”, dsb, maka Prof.Dr. Muhammad Quraish Shihab
adalah orang yang sangat jelas belajarnya dimana, bahkan jelas sanad
keilmuannya. dia di akui di Al-Azhar dan mencapai gelar professor
doktor. kok tak kau jadikan rujukan??
8. Demikian pula
Prof.Dr.Said Aqil Siraj,MA. Dia juga sangat jelas belajarnya. Ia belajar
di Universitas Ummul Quro mekkah. Sangat jelas sanad keilmuannya.
Bahkan disertasi S3 nya masya Allah luar biasa manfaat ilmiahnya,
mengupas konsep Tasawwuf dalam pandangan Ibnu Taimiyyah. Lalu, kenapa
kau tidak jadikan ia rujukan?
9.
Mau saya tunjukkan dimana letak BUSUKNYA AKAL DAN PEMIKIRAN sekte
Talafi ? Baiklah.., Ustad Adi Hidayat sangat jelas belajarnya dimana,
jelas sanad keilmuannya, ia berguru dengan banyak ulama dan mencapai
gelar S2 dengan nilai memuaskan dalam akademik. Lagi-lagi mengapa tidak
kau jadikan rujukan? Kenapa tetap di jelek-jelekkan oleh kelompokmu?
Jawab !! Berarti apa? Berarti yang konslet adalah otakmu, dan yang busuk
itu hatimu !!
10. Jadi, apakah Ustadz yang jelas manhajnya dan
jelas sanad keilmuannya menurutmu adalah seperti ustad kondangmu antek
BNPT yang berfatwa bahwa “Densus 88 itu mujtahid” ? atau....ustadzmu
yang sakit jiwa yang dulu sempat berfatwa “Darah demonstran halal
ditumpahkan” ? Atau Ustadz dungu mu yang mengatakan “persatuan ummat
islam adalah persatuan kebun binatang” ? Haihaata haihaata...!
11.
Biarlah saya berkarya, menulis, dll. kalau saya salah, luruskan. Kalau
saya benar, bantu pertahankan. Kalau anda mukmin sejati, harusnya anda
doakan saya agar ikhlas dalam setiap langkah dakwah ini. Bukan malah
menyimpan berbagai prasangka dan kedengkian yang menjijikkan...